Kaltara berkisah.id, KALIMANTAN UTARA — Suku Tidung merupakan salah satu kelompok etnis asli yang banyak mendiami wilayah pesisir dan muara sungai di Kalimantan Utara, seperti di Tarakan, Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung. Berbeda dengan tarian masyarakat Dayak pedalaman yang umumnya mengentalkan nuansa heroik dan agraris, seni tari tradisional Suku Tidung merefleksikan kelembutan budaya pesisir yang berpadu harmonis dengan pengaruh nilai-nilai Melayu dan Islam.
Karakteristik Gerak dan Nuansa Islami
Tari asli Suku Tidung, seperti Tari Jepen Tidung maupun Tari Busak Baku (tarian yang melambangkan keindahan bunga baku, maskot Suku Tidung), memiliki ciri khas pada gerakannya yang mengalun lembut, ritmis, dan penuh kesopanan. Pola gerak tarian ini banyak terinspirasi dari aktivitas keseharian masyarakat pesisir, kedinamisan riak gelombang air, serta nilai budi pekerti luhur yang menjunjung tinggi adat ketimuran.
Para penari biasanya mengandalkan kelenturan tangan dan langkah kaki yang berjingkat ringan, selaras dengan iringan musik yang bertempo sedang hingga ceria.
Alunan Harmoni Musik Tingkilan
Eksistensi tarian Tidung tidak bisa dilepaskan dari iringan musik pengiringnya yang dikenal dengan sebutan musik Tingkilan. Instrumen utamanya adalah alat musik petik Gambus dan ketukan alat musik pukul Rebana. Musik ini sering kali dipadukan dengan lantunan syair atau pantun-pantun tradisional Tidung yang berisi nasihat kehidupan, puji-pujian, atau ungkapan suka cita.
Pakaian Adat yang Megah dan Menawan
Daya tarik lain dari tarian Suku Tidung adalah balutan busana adat yang dikenakan oleh para penarinya. Penari perempuan umumnya mengenakan pakaian adat pesisir yang sopan dan tertutup, dengan dominasi warna-warna cerah seperti kuning, hijau, atau merah.
Pada pementasan yang lebih sakral atau formal, penari sering kali mengenakan ornamen dan aksesori kepala keemasan yang terinspirasi dari kemegahan busana pengantin khas Tidung, Sina Beranti. Detail busana ini menambah aura kebangsawanan dan keanggunan saat mereka membawakan tarian.
Pelestarian dan Fungsi Sosial di Era Modern
Dahulu, tarian-tarian ini berkembang di lingkungan istana (keraton) maupun di tengah pergaulan masyarakat sebagai bentuk hiburan usai panen hasil laut atau saat perayaan pernikahan adat. Saat ini, tarian asli Suku Tidung terus dihidupkan sebagai Tari Persembahan atau Tari Selamat Datang. Anda dapat dengan mudah menjumpai pertunjukan tari ini dalam berbagai festival kebudayaan daerah, acara penyambutan tamu negara, hingga resepsi pernikahan masyarakat di penjuru Kalimantan Utara.
