Kaltaraberkisah.id, Tanjung Selor- ” Di tengah masifnya modernisasi dan mekanisasi di sektor pertanian, masyarakat adat di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan Utara (Kaltara) tetap setia menjaga warisan leluhur yang sarat makna. Salah satunya adalah budaya nugal tradisi menanam padi ladang secara tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai metode bercocok tanam, tetapi juga sebagai ruang mempererat kebersamaan dan merawat hubungan harmonis dengan alam.
Nugal merupakan teknik menanam padi di lahan kering (ladang berpindah atau huma) menggunakan alat sederhana berupa kayu runcing yang disebut tugal. Prosesi ini melibatkan kerja sama komunal yang tinggi, mencerminkan nilai gotong royong yang telah mendarah daging di tengah masyarakat adat setempat.
Gotong Royong dalam Setiap Lubang Tanam
Pelaksanaan nugal biasanya dilakukan secara bergiliran melalui sistem kelompok tani tradisional. Warga sekampung atau kerabat dekat akan saling bahu-membahu membuka dan menanami ladang milik anggota kelompok secara bergantian hingga selesai.
Secara teknis, prosesi nugal dibagi dalam pembagian peran yang terstruktur:
- Kaum Pria di Garda Depan: Para pria berjalan beriringan sambil memegang tugal (tongkat kayu keras yang ujungnya runcing). Mereka menghujamkan tongkat tersebut ke tanah dengan ritme tertentu untuk membuat lubang tanam dengan jarak dan kedalaman yang ideal.
- Kaum Wanita Menabur Benih: Di belakang para pria, kaum wanita berjalan sambil membawa wadah berisi benih padi lokal. Mereka dengan cekatan menjatuhkan beberapa butir benih ke dalam setiap lubang yang telah dibuat, lalu menutupnya kembali dengan tanah menggunakan kaki atau tangan.
Aktivitas ini biasanya diiringi dengan canda tawa dan semangat kebersamaan, menjadikan musim nugal sebagai salah satu momen sosial yang paling dinanti oleh masyarakat adat.
Sarat Nilai Spiritual dan Kearifan Ekologis
Lebih dari sekadar aktivitas agraris, nugal merupakan ritual budaya yang dilandasi oleh rasa hormat kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Sebelum musim nugal dimulai, pemuka adat atau ketua kelompok biasanya memanjatkan doa atau menggelar ritual syukur agar tanah yang digarap diberi kesuburan, terhindar dari hama, serta menghasilkan panen yang berlimpah.
Selain itu, sistem pertanian ladang dengan cara nugal ini juga menerapkan prinsip-prinsip kearifan ekologis. Pemilihan lokasi ladang dilakukan secara arif dengan memperhitungkan siklus kesuburan tanah alami, sehingga tanah memiliki waktu untuk memulihkan diri sebelum kembali digunakan di masa mendatang.
Menjaga Identitas Padi Lokal
Budaya nugal juga menjadibenteng pertahanan dalam melestarikan berbagai varietas padi lokal khas Kaltara yang terkenal tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan memiliki cita rasa khas. Berbeda dengan padi modern, varietas padi ladang lokal ini ditanam tanpa bahan kimia sintetis, mengandalkan sepenuhnya pada air hujan dan nutrisi alami tanah.
Bagi masyarakat Kaltara, melestarikan budaya nugal berarti menjaga denyut nadi identitas kultural agar tidak tergerus zaman. Tradisi ini membuktikan bahwa kearifan lokal masa lalu memiliki cara tersendiri yang berkelanjutan untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus merawat keharmonisan sosial di tengah masyarakat.
