Kaltara berkisah.id, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melihat kekayaan arsitektur dan peninggalan sejarah sebagai bagian dari potensi pengembangan wisata berbasis budaya di daerah.
Pengembangan tersebut dinilai dapat berjalan seiring dengan pembangunan modern, selama karakter dan identitas lokal tetap menjadi bagian yang dipertahankan.
Hal itu disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, H. Sapi’i, S.T., M.A.P., saat mewakili Gubernur Kaltara dalam malam ramah tamah Tanju Tanjung Arsitektur (TTA) Seri Ke-5 di depan China Town, Tanjung Selor, Minggu (23/8) malam.
Menurut Sapi’i, perjalanan TTA Seri Ke-5 yang melintasi Brunei Darussalam, Sabah, Malaysia, hingga Kaltara menunjukkan bahwa bangunan dan kawasan bersejarah tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Setiap bangunan, kata dia, menyimpan nilai, kebiasaan, sejarah serta cerita masyarakat yang berkembang di sekitarnya. Nilai tersebut menjadi bagian dari identitas yang dapat dikenalkan kepada wisatawan.
Karena itu, jejak arsitektur yang ditemukan sepanjang perjalanan TTA diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para arsitek sekaligus membuka perspektif baru dalam pengembangan wisata Kaltara.
“Arsitektur masa depan jangan sampai kehilangan identitas lokal. Modern boleh, tetapi akar budayanya tetap harus dijaga,” ujarnya.
Sapi’i mengatakan pembangunan dan modernisasi merupakan bagian dari perkembangan daerah. Namun, kemajuan tersebut perlu berjalan seimbang dengan upaya menjaga warisan sejarah dan budaya.
Kaltara sendiri memiliki sejumlah peninggalan yang berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya. Di antaranya Balai Teras Nawang, peninggalan Kesultanan Bulungan, Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Rumah Bundar, Balai Adat Tidung hingga kawasan peninggalan Pertamina di Tarakan.
Menurutnya, keberadaan peninggalan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai bangunan lama. Jika dikemas dengan baik, cerita yang ada di baliknya dapat menjadi pengalaman wisata yang memberikan nilai edukasi sekaligus memperkenalkan identitas daerah.
Pendekatan tersebut juga dapat memperkuat hubungan antara pariwisata dengan pelestarian budaya. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bentuk bangunan, tetapi juga memahami sejarah, kehidupan masyarakat dan nilai budaya yang menyertainya.
Melalui TTA Seri Ke-5, Pemprov Kaltara berharap semakin banyak perspektif mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan, arsitektur, sejarah, budaya dan pariwisata.
Dengan begitu, perkembangan wisata Kaltara ke depan tidak hanya menghadirkan destinasi baru, tetapi juga mampu mengangkat kembali cerita dan warisan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Bumi Benuanta. (dkisp)
