Kaltara berkisah.id, TANJUNG SELOR – Festival budaya di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi pariwisata daerah.
Kehadiran wisatawan dalam sebuah festival dapat membuka peluang bagi berbagai sektor ekonomi lokal, mulai dari kuliner, kerajinan, transportasi, akomodasi hingga jasa pariwisata. Dampaknya akan semakin terasa apabila masyarakat setempat mendapat ruang yang cukup untuk terlibat dalam kegiatan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara, Dr. Njau Anau, S.Pd., M.Si., mengatakan festival budaya seharusnya dirancang dengan konsep yang mampu menghubungkan nilai budaya dengan potensi ekonomi masyarakat.
“Festival itu jangan hanya dilihat sebagai acara. Di dalamnya ada peluang ekonomi masyarakat. Ketika wisatawan datang, mereka akan membutuhkan makanan, transportasi, tempat menginap, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lainnya,” kata Njau.
Menurutnya, pelaku lokal harus menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. UMKM kuliner, pengrajin, pelaku ekonomi kreatif hingga penyedia jasa wisata dapat diberikan ruang untuk menawarkan produk dan layanan kepada pengunjung.
“Jadi kita ingin masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari kegiatan itu sendiri. Mereka bisa menjual produk, menampilkan karya, memperkenalkan kuliner dan menunjukkan potensi daerahnya,” ujarnya.
Njau juga menilai kurasi kegiatan menjadi hal penting agar setiap festival memiliki karakter yang kuat. Unsur budaya, pertunjukan seni, kuliner dan ekonomi kreatif dapat disusun dalam satu tema yang mudah dipahami wisatawan.
“Setiap festival harus punya cerita dan karakter. Jangan sampai semua kegiatan bentuknya sama. Kita perlu mengangkat keunikan masing-masing daerah sehingga wisatawan punya alasan untuk datang,” jelasnya.
Dari sisi promosi, pemanfaatan media digital juga menjadi bagian penting. Konten berupa video, foto dan cerita mengenai festival dapat dipublikasikan sebelum kegiatan berlangsung untuk membangun ketertarikan calon wisatawan.
Namun, promosi menurut Njau tetap harus disesuaikan dengan target pasar yang ingin dijangkau.
“Sekarang orang mencari informasi melalui media digital. Karena itu festival juga harus dikemas dalam konten yang menarik, tetapi tetap menyampaikan apa yang menjadi identitas dan nilai budaya dari kegiatan tersebut,” katanya.
Selain pelaksanaan, evaluasi setelah festival juga diperlukan. Penyelenggara dapat melihat jumlah pengunjung, transaksi UMKM, kualitas pelayanan hingga dampak kegiatan terhadap masyarakat sebagai bahan perbaikan untuk penyelenggaraan berikutnya.
“Setelah kegiatan selesai jangan langsung dianggap selesai semuanya. Kita harus evaluasi. Apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, bagaimana dampaknya terhadap masyarakat dan apakah wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik,” tuturnya.
Meski memiliki potensi ekonomi, Njau menegaskan nilai budaya tetap harus menjadi dasar dalam penyelenggaraan festival. Tradisi dan identitas masyarakat tidak semestinya diubah hanya demi mengejar hiburan apabila perubahan tersebut justru menghilangkan makna budaya.
“Kita ingin budaya dan ekonomi bisa berjalan bersama. Ekonominya tumbuh, tetapi nilai budayanya tetap terjaga. Jangan sampai karena ingin ramai, kemudian kita kehilangan identitas,” tegasnya.
Dengan keseimbangan antara budaya dan ekonomi, festival diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang promosi destinasi sekaligus membuka peluang bagi masyarakat Kaltara untuk memperkenalkan identitas, produk dan kreativitas daerah kepada wisatawan.
