Kaltara berkisah.id , TANJUNG SELOR – Festival Perahu Dayung Tradisional Sungai Kayan kembali digelar di Kabupaten Bulungan. Selain menjadi ruang kompetisi olahraga tradisional, kegiatan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu atraksi wisata berbasis budaya yang memperkenalkan kehidupan masyarakat di tepian Sungai Kayan.
Berdasarkan Surat Edaran Bupati Bulungan Nomor 500.13/366/DKOP-BUL, festival dijadwalkan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di perairan Sungai Kayan dan terbuka bagi masyarakat Kabupaten Bulungan.
Daya tarik utama festival terletak pada lomba perahu yang melibatkan puluhan pendayung dalam satu perahu. Kekompakan peserta dalam menjaga irama kayuhan hingga memacu perahu menuju garis finis menjadi tontonan tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan.
Konsep tersebut memberikan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung tidak hanya menyaksikan perlombaan, tetapi juga dapat melihat secara langsung tradisi masyarakat yang masih dipertahankan dan diwariskan melalui kegiatan bersama.
Potensi Festival Sungai Kayan juga dapat dikembangkan lebih luas dengan menggabungkan berbagai aktivitas pendukung, seperti pertunjukan seni budaya, kuliner khas daerah, pameran kerajinan, kegiatan UMKM hingga paket wisata yang memanfaatkan kawasan Sungai Kayan.
Pada penyelenggaraan sebelumnya, festival mendapat antusiasme besar. Sekitar 3.550 pendayung dengan 130 perahu dari 10 kecamatan tercatat ambil bagian. Besarnya keterlibatan masyarakat menunjukkan festival ini memiliki modal sosial yang kuat untuk terus dikembangkan.
Pemerintah Kabupaten Bulungan sebelumnya juga mendorong agar Festival Sungai Kayan dapat berkembang menjadi ikon wisata dan masuk dalam agenda pariwisata yang lebih luas.
Jika dikemas secara berkelanjutan, festival ini tidak hanya menjadi perlombaan tahunan. Sungai Kayan dapat diposisikan sebagai ruang pertemuan antara olahraga tradisional, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata.
Dengan demikian, Festival Sungai Kayan dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan Bulungan kepada wisatawan melalui pengalaman budaya yang tumbuh dari masyarakat sendiri.
Perahu yang berpacu di Sungai Kayan bukan hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi masyarakat dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata tanpa kehilangan akar budayanya.
